


EID AL-FITR
Bagi para Tenismania yang tidak mudik (balik kampung) pada Hari Raya ’Idul Fitri tahun ini tidak perlu bersedih hati karena masih dapat mengisi Lebaran di perantauan bersama beberapa anggota tenismania dan mahasiswa2 Indonesia (UKM) lainnya yang juga merayakan Lebaran di negara jiran, Malaysia.
Tanggal 1 Syawal dilalui dengan shalat ’Ied, kemudian berkumpul bersama di Taman Tenaga (di rumah ustadz Iswahyudi) untuk bersilaturrahmi sambil menikmati lontong/ketupat sayur yang dimasak bersama-sama pada malam sebelumnya (masak-memasak dipimpin oleh bang Zakaria alias ustadz Jack), serta dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa rekan mahasiswa Indonesia (di Hentian Kajang, Taman Tenaga, dan Sungai Tangkas).
Hari Raya ke-2 dilalui dengan bersama-sama melawat ke Hutan Lipur Sungai Congkak (Sungai Congkak Recreational Forest) yang terletak di daerah Hulu Langat, Selangor. Kami (9 orang) pergi ke lokasi tujuan dengan menaiki 2 kereta (mobil) setelah sebelumnya berkumpul di Hentian Kajang. Hutan rekreasi ini terletak sekitar belasan km dari Cheras (melewati jalan tol Cheras) menuju Jalan Hulu Langat dan melalui daerah Pangsun dan Dusun Tua.
Tempat rekreasi ini menawarkan keindahan alam berupa air sungai yang sejuk, bersih, dan segar yang mengalir cukup deras, dan kawasannya yang hijau oleh pepohonan yang tinggi dan rindang. Fasilitas yang tersedia di sini cukup lengkap seperti tapak (tanah tempat mendirikan) perkemahan, pondok-pondok rehat, chalet-chalet yang disewakan, tandas awam, tempat parkir, jalan beraspal untuk menelusuri hutan dll.
Topografi hutan ini relatif datar (rata) sehingga air sungai yang mengalir di sepanjang hutan ini juga relatif mendatar dan tidak terdapat air terjun seperti di daerah yang berbukit-bukit. Air sungainya cukup dangkal (rata-rata separas lutut orang dewasa) dan di sepanjang tubuh sungai penuh dengan bebatuan baik yang berukuran besar maupun yang kecil, sehingga tidak begitu seronok untuk berenang, tapi cukup mengasyikkan untuk berendam di dalam air yang segar dan mengalir dengan cukup deras ini (terapi pijatan air).
Hutan ini merupakan salah satu tempat wisata yang coba dikembangkan berbasiskan eco-turism, dimana hutan ini tetap dilestarikan alam aslinya, dijaga kebersihan lingkungannya, dan dipelihara keberadaan flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Pepohonan dan tumbuh2an yang terdapat di hutan ini diberi label nama awam dan nama latinnya sehingga orang dapat mengenal berbagai jenis pepohonan dan tumbuh2an yang terdapat di sana. Diantara pohon-pohon yang banyak terdapat di hutan tsb misalnya Meranti Tembaga (Shorea leprosula) dan Meranti Kepong (Shorea ovalie). Sedangkan untuk hewan, tidak terlihat dengan jelas keanekaragaman jenis fauna di dalam hutan tsb.
Karena reliefnya relatif datar, tempat ini sesuai untuk berbagai aktivitas berkelah (piknik) dan berkemah bagi keluarga dan rombongan. Selain itu, tempat ini juga sesuai untuk mengadakan pelatihan2 (training) outdoor seperti leadership training dan safety and rescue training. Tempat ini juga sesuai untuk orang-orang yang hidup di bandar-bandar yang ingin mencari ketenangan, menghirup udara segar, merehatkan pikiran, dan mungkin juga untuk mencari inspirasi.
Kesemua anggota rombongan kami mengambil peluang untuk menelusuri hutan ini, berfoto ria, berendam di dalam sungai tsb, dan mengadakan perlombaan menahan napas di dalam air :) :) :) ???
Cintailah sungai kita (setuju!!!)
Tempat yang asyik untuk berkemah…
Sssttt,,,jangan ribut! Ada yang lagi ngadain training
Kehijauan kawasan ini cukup menyeronokkan :)
Penulis: Adid Adep Dwiatmoko
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel http://www.muslim.or.id
Lebaran (Hari Raya 'Idul Fitri) adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (’Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Alloh dan Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.
Definisi ‘Ied
Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “Iedul Fitri” adalah kembali kepada fitroh (suci) karena dosa-dosa kita telah terhapus. Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” demikian, seharusnya namanya “Iedul Fithroh” (bukan ‘Iedul Fitri). Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.
Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’” (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih) (Majalah As Sunnah 05/I, Ustadz Abdul Hakim). Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).
Pensyariatan ‘Ied (hari raya) Adalah Tauqifiyyah
Hari raya (tahunan) yang dimiliki oleh kaum muslimin, hanya ada dua, yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. Adakah hari raya yang lain? Jawabnya: tidak ada. Karena pensyariatan hari raya merupakan hak khusus Alloh ‘azza wa jalla. Suatu hari dikatakan hari raya apabila Alloh menetapkan bahwa hari tersebut adalah hari raya (’Ied). Namun, jika tidak, kaum muslimin tidak diperkenankan merayakan atau memperingati hari tersebut. Alasannya adalah hadits Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas rodhiyallohu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: ‘Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (’Iedul Adha) dan hari fitri (’Iedul Fitri).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shohih)
Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat/bagus. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Tatkala Nabi datang, Alloh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Alloh pilih untuk hamba-hamba-Nya. Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi. Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari raya adalah tauqifiyyah (sesuai dengan perintah Alloh). Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Alloh (Al Qur’an) maupun Rosul-Nya (Al Hadits). Sehingga tidak benar, apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini, dengan melakukan berbagai macam peringatan/perayaan yang sama sekali tidak ada tuntunannya. Di antaranya: peringatan/perayaan maulid Nabi, Isro Mi’roj, Nuzulul Quran, hari Kartini, hari ibu, dan hari ulang tahun.
Tuntunan Nabi Saat Hari Raya
Perayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Alloh semata dan (2) Sesuai dengan tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam.
Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:
Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” (Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar - edisi Indonesia).
Jika Terkumpul Hari Jum’at dan Hari Raya Dalam Satu Hari
Jika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban sholat Jum’at bagi orang yang telah melaksanakan sholat ‘Ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan sholat Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum sholat ‘Ied. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Diperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika ‘ied jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan sholat ‘ied saja dan tidak menghadiri sholat Jumat.” (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar - edisi Indonesia).
Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara Ringkas
Karena terbatasnya jumlah halaman, berikut kami ringkaskan hal-hal yang terkait dengan sholat ‘Ied, di antaranya:
Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri
Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi yang menulis, membaca, dan yang menyebarkannya.
***





Malaysia terkenal dengan seni bina (arsitektur) masjid-masjidnya yang indah. Dua hari berturut-turut, 25 dan 26 Ramadhan tahun ini, alhamdulillah penulis berkesempatan untuk “bersafari Ramadhan” menuju 2 masjid utama di Malaysia, yaitu Masjid Wilayah Persekutuan di Kuala Lumpur (biasa disebut ‘Masjid Wilayah’) dan Masjid Putra di Putrajaya. Kedua masjid ini dikenal dengan arsitekturnya yang indah dan telah menjadi landmark di kawasan masing-masing, yaitu di ibu
Perjalanan ke Masjid Wilayah
Penulis memulakan perjalanan menuju Masjid Wilayah pada pukul 5 petang (sore) setelah menunggu hujan reda beberapa lama. Perjalanan ke Masjid Wilayah dilakukan dengan kereta api komuter dari Stesyen UKM menuju Stesyen Segambut di Kuala Lumpur.
Semula ada kekhawatiran menaiki kereta api ini setelah kejadian tabrakan antar kereta api komuter beberapa hari lalu. Belum diketahui apa penyebab kecelakaan tsb. Namun tidak ada korban jiwa, hanya luka-luka. Tidak seperti di
Hingga datangnya waktu Maghrib, penulis belum juga berhasil mendapatkan teksi. Suara azan dari sebuah masjid berdekatan tempat menunggu teksi, memutuskan penulis untuk berbuka puasa dan shalat Maghrib terlebih dahulu di masjid tsb. Niat untuk berbuka puasa di Masjid Wilayah pun batal. Namun penulis masih berharap dapat mengerjakan shalat Isya, tarawih, dan witir di Masjid Wilayah.
Setelah melakukan buka puasa dan shalat Maghrib, penulis kembali menuju tempat semula untuk menunggu teksi. Akhirnya harapan penulis dikabulkan oleh Allah, karena alhamdulillah sebelum sampai ke tempat menunggu, ada teksi yang melintas dan lantas tanganpun diacungkan untuk menghentikan teksi tsb. Setelah si supir paham maksud penulis, dia menetapkan harga RM 10 (sekitar Rp 25.000) dengan alasan jalan menuju Masjid Wilayah biasanya jam (macet). Dikarenakan ingin segera sampai ke masjid tsb, penulis tidak melakukan penawaran, langsung menaiki teksi yang dikemudikan oleh seorang lelaki India Singh beragama Sikh (kelihatan dari gayanya memakai surban).
Di perjalanan, si driver menanyakan asal usul dan maksud penulis menuju ke Masjid Wilayah. Untuk diketahui, kebanyakan supir teksi di Malaysia suka bercerita, seperti sebuah basa-basi untuk menyenangkan penumpang, karena biasanya yang menaiki teksi di Malaysia adalah turis. Penulis menjawab pertanyaan dengan mengatakan bahwa penulis adalah seorang pelajar UKM yang berasal dari Indonesia. Alasan menuju ke Masjid Wilayah adalah untuk menunaikan shalat tarawih di masjid tersebut. Dia juga menanyakan apakah penulis seorang wartawan. Barangkali dia melihat gaya penulis yang memakai tas ransel dan seperti sedang meliput sebuah peristiwa. Penulispun menjawab datar, ”ya...” (karena penulis adalah seorang ”wartawan” freelance sebuah "kantor berita" bernama www.donyadriansyah.blogspot.com? :) )
Masjid Wilayah Seperti Masjid Biru di Turki
Masjid Wilayah terletak di Jalan Duta, berdekatan dengan Kompleks Kerajaan yaitu perkantoran Lembaga Hasil Dalam Negeri (LHDN). Menurut website Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur (JAWI), pembangunan masjid ini merupakan ide dari Perdana Menteri
Masjid yang terdiri dari 4 tingkat dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas (seperti AC, eskalator, lift, dll) ini dikelola oleh JAWI dan diberikan status sebagai masjid negeri. Masjid ini selain menjalankan kegiatan keagamaan (seperti shalat dan ceramah), juga menjalankan aktivitas-aktivitas kemasyarakatan (menyediakan fasilitas ruang serbaguna, seperti untuk majlis pernikahan, dan jamuan untuk orang ramai) dan pendidikan (seperti sekolah, tadika (=TK di Indonesia), asrama, perpustakaan, dan bilik komputer). Masjid Wilayah memang diakui sebagai masjid paling modern di Malaysia pada masa ini.
Selama bulan Ramadhan ini, masjid ini diimamkan oleh imam-imam yang didatangkan dari beberapa negara Arab. Penulis berkesempatan untuk menunaikan shalat Isya’ dan tarawih berjamaah di sini. Shalat berjamaah dilakukan di lantai 3, sedangkan lantai 4 khusus untuk jemaah Muslimah. Yang menjadi imam pada saat itu adalah Syeikh Moutasem Billah Al-Asali dari Syiria. Jumlah rakaat shalat tarawih di masjid ini adalah 20 rakaat. Namun imam membaca ayat Al-Qur’an dalam shalat tidak terlalu panjang, bahkan cenderung pendek-pendek. Setelah selesai 8 rakaat, banyak makmum yang keluar dari shaf-shaf, tidak mengikuti sampai 20 rakaat.
Selain menyediakan jamuan berbuka puasa, masjid ini juga menyediakan jamuan murih (makan setelah mengerjakan shalat tarawih). Penulis yang mengikuti shalat tarawih sebanyak 8 rakaat, kemudian menikmati jamuan murih. Penulis memutuskan untuk meninggalkan masjid ini setelah merasa puas mengamati sekeliling masjid ini. Perjalanan pulang diawali dengan mencari teksi di luar kawasan masjid ini, yaitu di Jalan Duta, untuk menuju ke Stesyen komuter Segambut. Perjalanan berakhir dengan tiba di Stesyen UKM pada pukul 11 malam.
Seharian di Putrajaya
Setelah melakukan perjalanan ke Masjid Wilayah sendirian, maka keesokan harinya (pada 26 Ramadhan 1924 H bersamaan dengan 26 September 2008, bertepatan hari Jum’at) penulis melakukan perjalanan ke Putrajaya ditemani seorang kawan akrab, yaitu Budi Birahmat (mahasiswa Indonesia di UKM asal Padang, dulu pernah serumah dengan penulis). Perjalanan ke Putrajaya memang sudah kami rencanakan jauh-jauh hari, untuk menikmati Ramadhan di kawasan pusat pentadbiran (pemerintahan) negara yang dipimpin oleh Pak Lah (sapaan akrab PM Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi). Kami berangkat dari Hentian Kajang pada pukul 10 pagi dengan menaiki sepeda motor milik penulis, yaitu Honda bebek tahun 1995 (hampir sama dengan Astrea Prima yang dulu pernah beredar di
Perjalanan ke Putrajaya memakan waktu sekitar 30 menit. Kami berputar-putar di kawasan tersebut sambil menikmati keindahan bangunan-bangunan, seperti perkantoran dan jembatan-jembatan yang memang dibangun indah. Meskipun sudah pernah beberapa kali melawat ke kawasan ini, namun sesekali datang kembali ke sini tetap menarik dan menghiburkan. Tidak lupa, kamera yang telah dipersiapkan, dipetik untuk menangkap momen-momen bersama pemandangan yang indah.
Kami menunaikan shalat Jum’at di Masjid Putra. Ada satu hal yang sampai kini masih mebuat penulis penasaran. Kenapa di Masjid Putra sebagai masjid utama di kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Malaysia, penulis tidak pernah melihat Perdana Menteri, Timbalan (=Wakil) Perdana Menteri, ataupun menteri-menteri pemerintahan Malaysia yang shalat di sana secara berjamaah, baik pada saat shalat ’Ied pada hari raya, saat shalat Jum’at, atau shalat fardhu? Padahal sudah beberapa kali penulis berkunjung ke masjid ini, baik pada saat shalat 'Ied, saat shalat Jum'at dan saat hari biasa. Adakah masjid lain selain Masjid Putra tempat mereka shalat? Apakah mereka menunaikan shalat di masjid lain di luar Putrajaya? Hanya Dr. Mahathir (ex-PM) yang pernah penulis temui setelah selesai shalat ’Ied pada saat Hari Raya ’Idul Adha tahun lalu.
Selesai menunaikan shalat Jum’at, kami pergi ke Alamanda Putrajaya, sebuah pusat perbelanjaan di kawasan tsb. Tujuannya hanya ingin ”mencuci mata”, barangkali ada yang menarik untuk dibeli. Setelah puas berkeliling Alamanda, kami segera kembali ke Masjid Putra untuk bersiap-siap menunaikan shalat Ashar. Sambil menunggu datangnya waktu Ashar, kami isi waktu dengan beristirahat di dalam masjid sambil membaca Al-Qur’an. Jangan tidur atau berbaring di dalam masjid itu, karena nanti akan ada petugas masjid yang datang menegur. Buktinya, pada saat itu ada beberapa orang Afrika yang ditegur karena mereka berbaring di dalam masjid. Bahkan cara menegur petugas masjid tsb lebih cenderung memarahi.
Sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba, kami berkeliling taman-taman di sekitar Masjid Putra. Sungguh indah taman-taman di sekitar masjid itu, apalagi berada di sekitar kolam takungan air yang cukup luas. Konon kabarnya, kolam takungan air itu dibuat agar kawasan Putrajaya menjadi lebih sejuk. Konon pula, terdapat 9 jembatan yang melintas di atas kolam takungan air ini, yang merupakan duplikat 9 jembatan yang indah di dunia. Penulis tidak tahu apakah ada duplikat jembatan dari Indonesia.
Kami menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa dengan mengelilingi taman-taman di sekitar kawasan Masjid Putra dan kolam air yang luas itu, sambil sesekali mengambil gambar untuk mengabadikan momen-momen indah.
Buka Puasa dan Tarawih di Masjid Putra
Berbuka puasa bersama diadakan di pelataran Masjid Putra, di luar ruangan shalat. Ramai orang yang datang berbuka puasa yang diadakan setiap hari di masjid ini. Bukan hanya orang-orang tempatan, tapi juga pekerja-pekerja di kawasan tsb. Mereka berasal dari berbagai negara, seperti dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh dll. Dengan adanya berbuka puasa bersama ini, begitu terasa kaum muslimin berbaur tak kira apapun bangsa dan warna kulitnya, tapi semua disatukan atas nama ”Islam”.
Berbuka puasa di masjid ini diawali dengan jamuan ringan, yaitu kurma, kue, dan minuman sirap. Setelah itu dilakukan shalat Maghrib berjamaah. Makan nasi dilakukan begitu selesai Maghrib. Ramai orang yang antri mendapatkan nasi dan lauknya.
Setelah shalat Isya’, shalat tarawih pula dilakukan di masjid tsb. Seperti halnya di Masjid Wilayah, Masjid Putra juga melakukan tarawih sebanyak 20 rakaat, namun pada hari itu hanya dilakukan 8 rakaat berhubung akan ada acara majlis khatam Al-Qur’an. Yang menjadi imam adalah orang tempatan (Melayu).
* * *